Bisnis Herba

MANFAAT YANG TERSEMBUNYI DI DALAM TANAH

 

Sejak jaman nenek moyang sampai sekarang ternyata tanaman yang satu ini sudah dikenal luas. Karena manfaatnya tanaman ini banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan. Apalagi ketika musim hujan tiba, kehadirannya mampu menghangatkan tubuh. Karena khasiatnya tanaman ini juga mampu mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Aromanya yang khas dijadikan sebagai bahan pewangi pada berbagai produk makanan dan kosmetik.

 

            Sampai saat ini belum ada yang tahu secara pasti dari mana  asalnya. Berdasarkan cerita sejarah pada masa silam para pelaut Cina dan Asia Tenggara sudah membawa serta tanaman ini ke dalam kapal utuk dibawa serta berlayar. Mereka menanamnya kedalam pot untuk memudahkan pengangkutan dan menjaga agar bisa dimakan dalam kondisi segar. Tanaman ini juga mereka gunakan untuk mencegah penyakit kulit yang biasa dialami pelaut. Di Eropa tanaman ini menjadi bahan tambahan yang dimasukkan ke dalam adonan roti sebagai makanan favorit Ratu Elizabeth I dan pengikutnya. Nenek moyang kita sudah mengenal dan memanfaatkan tanaman ini sejak ratusan tahun lalu, tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu masakan juga terkenal sebagai obat.

            Tanaman ini kita kenal sehari-hari sebagai jahe (Zingiber officenale Rosc). Tanaman jahe termasuk suku temu-temuan (Zingiberaceae). Masih satu keluarga dengan temu lainnya seperti temu lawak (Curcuma xanthorhiza), kunyit (Curcuma domestica), kunir putih (Curcuma alba) dan lain-lain. Nama botani Zingiber sesungguhnya dari bahasa Sansekerta : Singaberi yang berakar dari bahasa Arab : Zanzabil atau bahasa Yunani : Zingiberi. Masyarakat Aceh mengenal dengan nama halia, di Sunda biasa disebut jahe, orang jawa biasa menyebutnya jae.

            Jahe termasuk tanaman tahunan dengan batang semu bewarna hijau, berdiri tegak dengan tinggi mencapai 1 meter. Daun berselang seling teratur, panjang 15 – 23 cm dan lebar 0,8 – 2,5 cm bagian atas lebih tua dari bagian bawah. Bunga tumbuh dari rimpang terpisah dari daun atau batang semunya. Bunga berupa malai yang tersembul di permukaan tanah berbentuk tongkat atau kadang-kadang bulat telur. Mahkota bunga berwarna kuning kehijauan, bibirnya berwarna ungu gelap dan berbintik putih kekuningan.

            Bagian terpenting yang memiliki nilai ekonomi yaitu pada rimpangnya. Jika bagian rimpang dipotong nampak warna daging rimpang yang bervariasi, mulai putih kekuningan, kuning sampai jingga tergantung klonnya. Rimpang jahe mengandung minyak menguap (volatile oil), minyak tak menguap (non volatile oil) dan pati. Minyak menguap biasa disebut sebagai minyak asiri atau minyak eteris yang menyebabkan jahe memiliki bau yang khas. Minyak eteris dengan ciri mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, memiliki rasa getir dan berbau wangi. Karena baunya yang khas banyak digunakan industri kosmetik untuk bahan parfum yang memancarkan kesan “suasana timur”.

Minyak tidak menguap dikenal juga sebagai oleoresin yang memberikan rasa pedas dan pahit pada jahe. Satu kilogram oleoresin setara dengan 28 kilogram bubuk jahe dengan citarasa dan kandungan yang sama. Oleoresin dibuat dengan cara mengekstrak tepung jahe dengan bantuan pelarut tertentu.

            Namun kandungan minyak disetiap bagian rimpang tidak sama. Kandungan minyak terbanyak terdapat dibagian bawah jaringan epidermis (kulit), semakin ketengah semakin berkurang. Sampai umur 12 bulan jahe memiliki kandungan minyak yang terus bertambah dan akan terus berkurang jika lewat umur satu tahun. Karena itu biasanya petani memanen tanaman jahe sebelum berusia lebih dari satu tahun. 

            Untuk memperoleh rimpang jahe yang berkwalitas baik perlu diperhatikan syarat tumbuhnya. Tanaman jahe berumur 2,5–7 bulan membutuhkan banyak sinar matahari. Pada umur ini tanaman jahe berada pada fase vegetatif, jika sinar matahari kurang daun menjadi besar-besar dan rimpang kecil-kecil. Curah hujan yang diinginkan rata-rata pertahun 2500 – 4000 mm dengan ketinggian tempat 200-600 m dari permukaan laut. Kondisi tanah pun harus diperhatikan, tanah subur, gembur mengandung banyak bahan organis dengan drainase baik tidak tergenang menjadikan rimpang jahe tidak mudah busuk.

 

Tiga Klon Jahe

Jika diperhatikan dari aroma, warna, bentuk dan besarnya rimpang ada tiga klon jahe.

1.      Jahe Putih Besar

Di Jawa Barat dikenal sebutan jahe badak atau jahe gajah, di bengkulu biasa disebut jahe kombangan. Secara fisik rimpangnya paling besar, berwarna kuning atau kuning muda, dengan serat sedikit dan lembut, aromanya kurang tajam dan rasanya pun kurang pedas  dibanding jahe lainnya. Kandungan minyak atsirinya paling rendah sekitar 0,82 % sampai 1,68% dari berat keringnya.

 

2.      Jahe Putih Kecil

Ukuran rimpangnya sedikit lebih kecil dari jahe putih besar, bentuk agak pipih dengan warna putih, seratnya lembut, aromanya tidak tajam. Kandungan minyak asiri 1,5% - 3,3 %. Biasa digunakan untuk rempah-rempah, minuman, dan penyedap makanan. Jahe ini masih satu klon dengan jahe emprit dan jahe kuning.

 

3.      Jahe Merah

Rimpangnya paling kecil, warna dagingnya merah sampai jingga muda, serat kasar, aroma tajam, rasa sangat pedas. Kandungan minyak asiri 2,58 – 2,72 %, banyak dimanfaatkan industri obat-obatan.

 

Peluang Pasar

Jahe sebagai salah satu komoditas tanaman obat memiliki prospek pasar di dalam negri maupun internasional yang baik. Sejak jaman penjajahan sampai sekarang karena khasiat yang terkandung di dalamya membuat bangsa eropa tergiur untuk mengkonsumsinya. Prospek pemasaran ke negara-negara Eropa dan Amerika pun terbuka lebar. Berdasarkan data BPS, Amerika menempati peringkat pertama sebagai negara tujuan ekspor jahe, kedua Belanda, diikuti Canada, Jepang dan Jerman.   Di pasar dunia jahe Indonesia dijual dalam bentuk rimpang segar (99,3 %), bentuk olahan (0,6%), jahe kering (0,1%),. Untuk bisa bersaing dipasar global kita harus memperhatikan persyaratan kwalitas yang ditetapkan negara importir. Negara importir umumnya menginginkan jahe yang terjamin kesegarannya, kulitnya nampak halus, mengkilat, tidak keriput, rimpangnya tidak bertunas, bentuk rimpang utuh, tidak berjamur, dan tidak terdapat serangga.

Produk Jahe

Saat ini banyak produk olahan dari jahe yang bisa ditemui di sekitar kita . Produk dari jahe bisa dikelompokkan menjadi 5 kelompok berdasarkan bentuk dan prosesnya.

  1. Jahe segar; biasa dipasarkan dalam bentuk jahe segar muda, jahe segar tua dan sebagai bibit. Jahe segar muda diperoleh dari tanaman jahe yang masih berumur 4-5 bulan dengan sedikit serat. Jahe segar tua biasa untuk ekspor, dengan ketentuan kualitas berbeda disetiap negara. Arab Saudi menentukan jahe berumur 7 bulan dengan berat rimpang minimal 120 gram, Amerika  menetapkan rimpang dari tanaman berumur 8,5 bulan dengan berat rimpang 180 gram. Untuk bibit biasanya digunakan rimpang jahe yang sudah berumur 9 – 12 bulan.
  2. Jahe Kering; dipasarkan untuk digunakan dalam proses ekstraksi minyak atsiri dan oleoresin.
    1. Serapid ginger : kulit jahe dikupas seluruhnya kemudian diiris dan dikeringkan.
    2. Coated ginger : irisan jahe dikeringkan sampai kulitnya berwarna coklat
    3. Bleached ginger : jahe kering yang proses pembuatannya dengan pencelupan pada air kapur
    4. Black ginger : jahe kering yang diperoleh dari pengeringan jahe segar yang dicelup pada air panas selama 10 –15 menit

3.      Bubuk Jahe; dipasarkan sebagai bahan minuman, makanan dan obat

4.      Jahe awet atau jahe olahan

a.       asinan jahe : jahe dikupas kulitnya kemudian diawetkan dalam larutan garam

b.      jahe dalam sirup : asinan jahe yang diawetkan dalam sirup

c.       jahe kristal  : jahe dalam sirup kemudian direndam selama 1-2 hari lalu direbus dan ditiriskan, setelah kering dicampur dengan kristal gula.

     Peluang Pemasaran Benih Jahe

            Ternyata pemasaran jahe bukan saja ditujukan untuk bahan konsumsi, kosmetik dan obat, rimpang jahe juga dipasarkan sebagai benih. Permintaan akan benih jahe di pasaran dunia cukup tinggi sekitar 31 ribu ton setiap tahunnya. Namun produsen benih jahe di dalam negri masih terbilang sedikit. Keenganan sebagian besar petani untuk mimilih bisnis pembenihan jahe dikarenakan kendala yang dihadapi saat ini tidaklah kecil.

Belum adanya lembaga penangkar benih jahe di dalam negri menjadi salah satu kendalanya.  Tidak seperti komoditas pangan atau palawija dan hortikultur sudah menggunakan benih unggul yang berkwalitas berasal dari penangkar benih.  Bibit/benih dari penangkar benih sudah melalui seleksi yang ketat dan dapat dipertanggung jawabkan kesehatannya serta berlabel sehingga kwalitasnya pun tidak diragukan lagi. Selain itu belum tertanggulanginya hama dan penyakit jahe secara tuntas menjadi momok bagi para petani. Salah satu penyebab penyakit yang sering menyerang jahe muda adalah patogen Pseudomonas solanacearum yang menyebabkan busuk total.

Adanya fluktuasi harga yang biasa terjadi pada komoditas pertanian menambah kesulitan petani untuk mendapatkan keuntungan lebih. Pada saat panen raya stok di pasaran melimpah akibatnya harga jual pun anjlok, petani melepas produksinya dengan harga rendah. Benih jahe pun tidak bisa disimpan terlalu lama, kalau kondisi penyimpanan tidak baik jahe cepat rusak dan busuk.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah pembibitan yaitu dengan kultur jaringan. Kultur jaringan memberikan kelebihan dibanding cara konvensional. Bibit yang dihasilkan lebih sehat, terbebas dari hama dan penyakit, seragam, juga dihasilkan benih dalam jumlah lebih banyak dan cepat dengan biaya relatif murah.


 

LAYANAN KAMI


  1. Klinik Herbal
  2. Balai pengobatan Herbal
  3. Konsultasi Pengobatan
  4. Obat-obat Herbal
  5. Kebun Tanaman Obat
  6. Pelatihan Tanaman Obat
  7. Agrowisata Tanaman Obat
  8. ...
Layanan Lain

AGENDA

November 2017
MSSRKJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930