Penelitian

Uji pra-klinis

TIGA TANAMAN OBAT


fluor albus

Hasil uji pra-klinis rimpang kunyit, daun beluntas, dan kulit buah delima membuktikan kebenaran bahwa ketiga tanaman obat tersebut dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit fluor albus. Bahan-bahan ini tidak bersifat toksik, aman bagi hati dan ginjal pemakainya.

 

Fluor albus sampai saat ini masih kerap dijumpai. Bahkan berdasarkan temuan dari klinik-klinik di dalam negeri maupun luar negeri, jumlah penderita penyakit keputihan ini menunjukkan tendensi terus meningkat. Berdasarkan pengamatan oleh RS Ciptomangunkusumo Jakarta, frekwensi peningkatan penderitanya mencapai 2,2 persen setiap tahun. Sedang di RS Dr. Soetomo Surabaya mencapai 5,3 persen.

Penyakit keputihan ditandai dengan gejala klinis keluarnya cairan vagina yang berlebihan atau abnormal. Penyakit ini kerap menimbulkan rasa gatal sekali, bau yang tidak sedap, dan dispareuni. Menurut banyak ahli ginekologi, keputihan disebabkan oleh peradangan pada serviks dan vagina, serta terdapat juga keputihan yang disebabkan oleh gangguan fisiologis dan non fisiologis. Menurut Pudji KS (1987), infeksi ini sering disebabkan oleh kandida (40%), trikhomonas vaginalis (15%), dan bakteri non spesifik (45%).

Hasil penelitian Soedoko, R. (1982) ditemukan 81 persen pemakai pil kontrasepsi oral mengeluh keputihan. Setelah di pap tes ditemukan 77 persen keputihan disebabkan oleh infeksi, pra ganas atau ganas, sedangkan sisanya 23 persen keputihan tanpa infeksi.

Menghadapi penyakit ini maka penderita dapat menyembuhkan diri sendiri dengan obat tradisional. Rimpang kunyit, daun beluntas, dan kulit buah delima merupakan simplisia yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional, diantaranya keputihan. Beberapa penelitian memperlihatkan ketiga tananam ini berkhasiat sebagai antimikroba.

 

Kunyit

Kunyit memiliki nama botani Curcuma longa Linn. atau Curcuma domestica Val. Kunyit merupakan salah satu tanaman yang paling sering digunakan sebagai bumbu masakan, baik rimpangnya maupun daunnya. Di pasar-pasar tradisional dapat kita temukan dengan sangat mudah.

Rimpang kunyit berasa agak pahit, sedikit pedas. Bila kita makan dalam jumlah agak banyak dapat menimbulkan rasa tebal dilidah. Warnanya kuning khas, berbeda dengan temulawak atau rimpang-rimpang tanaman lainnya.

Kunyit dapat hidup dimana-mana di Indonesia, sehingga nama daerahnya pun beragam. Ada yang menamainya kunyir, koneng temen, cahang, hunik, kunyik, atau kurlai. Tanaman ini memiliki nama asing tumeric.  Untuk pertumbuhannya, kunyit membutuhkan cahaya cukup, seperti di tempat sedikit ternaungi. Misalnya dibawah hutan jati, disela-sela pohon pisang, atau dibawah pohon kelapa.

Rimpang kunyit kaya kandungan senyawa berkhasiat bagi kesehatan seperti minyak atsiri mencapai 3-5 persen. Pada rimpangnya ini juga terkandung kurkumin, desmetoksikurkumin, bidesmetoksikurkumin, pati, tanin, dan damar.

Penggunaan rimpang kunyit sebagai obat tradisional ataupun untuk memelihara kesehatan telah sejak lama dikenal. Orang kerap membuat ramuan ini dengan campuran buah asam sebagai minuman segar. Khasiat tanaman ini sangat banyak, diantaranya sebagai peluruh haid, anti radang, anti bakteri, dan merangsang semangat. Jadi wajar jika kunyit ini diyakini dapat menyembuhkan penyakit fluor albus atau keputihan yang ditandai dengan peradangan karena serangan jamur, bakteri, ataupun trikhomonas. 

 

Beluntas

Beluntas telah dikenal sejak lama sebagai lalapan untuk menghilangkan bau mulut dan bau keringat. Beberapa daerah menamai tanaman ini luntas, baruntas, atau lamutasa.

Beluntas (Pluchea indica) memiliki bunga yang bergerombol di bagian ujung cabang atau ranting, sehingga ia masuk dalam kelompok famili tanaman Compositae. Daunnya hijau muda, berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi. Tulang daun beluntas menyirip.

Khasiat tanaman ini tidak hanya menghilangkan bau badan atau mulut saja, melainkan beluntas juga dapat menambah nafsu makan (stomakik), dan memperbaiki sistem pencernaan. Tumbuhan perdu ini juga dapat digunakan untuk pengobatan TBC kelanjar leher, nyeri rematik, dan penurun panas.

 

Delima     

Delima (Punica granatum L.) termasuk dalam kelompok famili tumbuhan Punicaceae. Tanaman ini dapat kita temukan hampir disemua daerah di Indonesia, sehingga di beberapa daerah tanaman ini diberi nama glima, glimau mekah, jelima, taliam, atau lekokase.

Simplisia kulit buah tanaman ini telah lama dikenal sebagai obat beberapa penyakit kulit karena jamur atau bakteri. Dengan cara kulit buah delima dijadikan arang, kemudian digerus dan ditambah minyak kelapa. Arang halus dari kulit buah delima dibalurkan pada bagian yang sakit.

Akar, buah, bunga, kulit buah, dan kulit batang tanaman ini kaya senyawa saponin dan falvonoid. Sedangkan zat samak dalam kulit buah delima mencapai 25-28 persen. Darei berbagai literatur disebutkan bahwa delima dapat digunakan dalam pengobatan penyakit-penyakit seperti batuk, diare, radang selaput lendir gusi, disentri, dan cacingan. Bahkan buah delima diyakini dapat menurunkan berat badan.

 

Hasil penelitian

Jika keputihan tidak segera ditangani maka dapat berakibat menjadi radang kronis. Peradangan kronis dapat menyebabkan hiperplasiatipik yang merupakan predisposisi karsinoma serviks.

Secara empiris penggunaan rimpang kunyit, daun beluntas, dan kulit buah delima telah lama dilakukan dan hasilnya cukup memuaskan. Penelitian pendahuluan terhadap uji anti bakteri secara invitro ekstrak kulit buah delima terhadap berbagai kuman yang diasingkan telah dilakukan oleh F. Ryas Prasetya 1987. Sedangkan daya anti bakteri daun beluntas telah dilakukan oleh Widyastuti, A. 1990.

Berbagai pengalaman empiris dari ketiga tanaman obat inilah yang telah menumbuhkan pemikiran Suharmiati dan Lestari Handayani untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam. Mereka berdua melakukan penelitian terhadap 144 orang ibu di Surabaya. Dari 144 sampel hanya ditemukan 35 orang yang menunjukkan adanya keradangan.

Hasil pap smear terhadap 35 sampel memperlihatkan bahwa, 7 orang sampel dengan radang purulen, 4 orang sampel dengan radang purulen dan kombinasi trikhomonas atau haemophilus vaginalis, 6 orang sampel disebabkan jamur, dan 3 orang disebabkan trikhomonas. Terbanyak keputihan disebabkan oleh radang non spesifik.

Suharmiati dan Lestari Handayani memberikan ramuan yang berisi ramuan kunyit, beluntas, dan kulit buah delima selama 7 hari terhadap semua sampel. Hasil pemberian bahan obat memperlihatkan bahwa bahan obat memberikan kesembuhan cukup baik pada penderita keputihan dengan radang non spesifik mencapai 53,8 persen. Sedangkan pengobatan untuk jenis keradangan yang lain kurang memberikan hasil yang memuaskan.

Melihat hasil penelitian ini, maka kedua peneliti membuat kesimpulan sementara bahwa ramuan ketiga bahan dapat dianjurkan untuk digunakan dalam pengobatan keputihan dengan radang non spesifik. Selanjutnya mereka memperkirakan hasil penelitian ini dipengaruhi oleh kadar air bahan yang tidak standar, tidak ditemukannya senyawa antimikroba pada beluntas, serta lama pemberian bahan obat yang hanya satu minggu.

Diduga ketiga bahan obat dapat memberikan hasil kesembuhan yang lebih baik pada semua jenis keputihan, jika diberikan dengan dosis yang lebih tinggi dan kurun waktu pengobatan yang lebih lama. Langkah ini dapat dilakukan karena ketiga bahan obat ini tidak toksik, jadi sangat aman bagi hati dan ginjal.

 

Tidak berefek samping

Ketiga bahan obat keputihan ini tergolong aman. Kesimpulan ini didukung hasil wawancara terhadap semua sampel penelitian, pemeriksaan laboratorium hati dan ginjal, serta pemeriksaan toksisitas akut pada mencit. Selain itu ketiga bahan sudah umum digunakan sebagai bahan baku obat tradisional dan telah dikonsumsi bebas dalam masyarakat.

 

LAYANAN KAMI


  1. Klinik Herbal
  2. Balai pengobatan Herbal
  3. Konsultasi Pengobatan
  4. Obat-obat Herbal
  5. Kebun Tanaman Obat
  6. Pelatihan Tanaman Obat
  7. Agrowisata Tanaman Obat
  8. ...
Layanan Lain

AGENDA

November 2017
MSSRKJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930