Profil

Herbarium BOGOR

Awal sebuah Penelitian Tumbuhan 

Herbarium dikenal sebagai “Ruang Tumbuhan”.  Di tempat tersebut terdapat berbagai  jenis tumbuhan  yang memang dijadikan sebagai koleksi.   Kumpulan ratusan bahkan ribuan jenis  tumbuhan digunakan sebagai materi penelitian  ilmu botani, untuk mendukung perkembangan ilmu biologi. 

            Herbarium Bogoriense, atau yang lebih dikenal dengan herbarium bogor  merupakan  tempat koleksi tumbuhan pertama yang ada di Indonesia.   Tempat tersebut dijadikan sebagai sarana untuk mengkoleksi dan meneliti berbagai jenis tumbuhan yang ada di tanah air.   Kurang lebih sebanyak terdapat 2 juta koleksi tumbuhan (koleksi kering dan basah) ada di tempat tersebut.  Dalam naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Herbarium bogor kini telah mengalami berbagai perubahan di berbagai bidang.

Berawal dari Berdirinya Kebun Raya

Prof. Dr. C. G. L Reindwardt seorang ahli biologi berkebangsaan Belanda merupakan tokoh utama pendiri Herbarium ini di tahun 1841. Menurut sejarahnya,  tempat ini  berdiri sebagai akibat adanya perkembangan Kebun Raya Bogor yang dibangun sebelumnya.  Kebun ini merupakan kebun botani tropis yang terkenal di dunia, di samping berfungsi sebagai kebun riset tanaman tropis, juga merupakan kebun rekreasi yang cukup menyenangkan. Pendiriannya diawali dengan penancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dimulainya pembangunan kebun.  Pada saat itu  pelaksanaannya dipimpin oleh Reindwardt sendiri yang dibantu oleh Mr. James Hooper dan W. Kent dari Kebun Botani Kew  Inggris yang terletak di kota Richmond.

Ide pendirian Kebun Raya, bermula dari Reindwardt yang menulis kepada Komisaris Jenderal G. S. G. P. van der Capellen. Dalam suratnya dia mengemukakan keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, sebagai tempat pendidikan guru, koleksi tumbuhan dan juga akan  dikembangkan menjadi kebun yang lain. Kebun Botani yang didirikan tanggal 18 Mei 1817 oleh, Reindwardt yang kemudian dinamakan, s'Lands Plantentuinte Buitenzorg dan  sepanjang perjalanan sejarahnya mengalami perubahan nama beberpa kali yaitu "s'Lands Plantentuin, "Syokubutzuer "Botanical Garden of Buitenzorg, "Botanical Garden of Indonesia", Kebun Gede dan Kebun Jodoh. Namun pada akhirnya lebih dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Bogor merupakan bagian dari monumen Batu Tulis yang didirikan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari Kerajaan Pajajaran tahun 1474 – 1513 Masehi.   Kebun Raya pada saat itu dinamakan Samida (hutan  atau taman buatan ), yang ditujukan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan tempat memelihara benih kayu yang langka.

Koleksi Flora Seluruh Indonesia

            Di areal bangunan yang terdiri dari 3 lantai tersebut terdapat berbagai jenis tumbuhan koleksi dari berbagai penjuru tanah air. Lantai atas merupakan koleksi tumbuhan jenis dikotil (berkeping dua) dan lantai 2 untuk menyimpan tumbuhan berbiji tunggal (monokotil). Semua itu tersedia dalam bentuk preparat basah dan peparat yang telah dikeringkan.  Sedangkan lantai dasar adalah museum etnobotani, yang menyimpan berbagai macam koleksi peralatan berbahan tumbuhan yang digunakan oleh berbagai suku di Indonesia.  Berbagai jenis barang mulai dari alat pertanian, rumah tangga, senjata dan pakaian, terpampang dalam suatu rangkaian etalase yang tertata rapi.  “Tempat ini dulu diresmikan oleh Prof. B.J Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menristek” tutur Mulyati seorang staf ahli di tempat tersebut.   Untuk dapat masuk ke museum tersebut,  pengunjung dikenakan tarif masuk  Rp 1000/orang.   Meski murah, menurut penjaga gedung, belum tentu tiap hari ada pengunjung yang datang ke Museum Etnobotani, sehingga setiap saat selalu lengang.

Penutup Alat Vital “Koteka” dari buah Labu

Siapa mengira kalau “koteka” yang digunakan oleh suku-suku di Papua sebagai alat penutup kelamin pria ternyata terbuat dari buah labu.  Alasan mengapa buah tersebut digunakan, karena mempunyai kulit buah yang keras, mudah dibentuk dan ringan serta mudah dikeringkan sehingga nyaman digunakan.  Bahan ini dibuat dengan cara mengambil isi buah labu kemudian mengeringkan kulit luarnya hingga keras dan siap digunakan.   Ukuran dan bentuk koteka disesuaikan dengan status umur masing-masing orang, seperti anak-anak dan orang dewasa.   Sedangkan di daerah lain buah labu digunakan untuk membuat berbagai peralatan rumah tangga seperti kendi untuk  menampung air.    Selain buah labu banyak lagi berbagai bentuk barang yang terbuat dari tanaman, seperti tikar dari daun pandan dan bambu, perahu dari pohon sagu, pakaian dari berbagi kuli kayu dan lain-lain.

Awal sebuah Identifikasi Tumbuhan

Dari sekitar 2 juta koleksi (sampel) yang ada di Herbarium Bogor merupakan suatu sumber informasi bagi identifikasi berbagai jenis spesies tumbuhan dari seluruh tanah air.  Informasi tersebut dapat berupa peta penyebaran, variasi pertumbuhan, habitat (tempat tumbuh),  masa pertumbuhan, manfaat/kegunaan dan lain-lain.    Dalam suatu sampel tumbuhan yang diambil dari lapang dan dikeringkan, kemudian diberikan  suatu etiket (label) yang memuat beberapa informasi dasar tumbuhan tersebut, seperti nama daerah, kegunaan, morfologi, dan tempat asalnya.

Koleksi herbarium, selain berasal dari Indonesia juga ada yang berasal dari pertukaran antar herbarium di beberapa negara seperti Malasyia, Brunei dan Papua New Guenea, Belanda, Singapura dan Australia. 

Bunga  dan Buah sebagai Alat Identifikasi Utama

Sampel herbarium yang diambil dari satu jenis tanaman umumnya lebih dari satu bagian (sampel).   Hingga saat ini  untuk memudahkan  identifikasi diperlukan materi generatif  suatu jenis tumbuhan seperti bunga dan buah dan juga bagian lain seperti daun,  kulit batang dan akar sebagai informasi pendukung.    Seperi koleksi durian, yang memiliki banyak jenis tidak cukup hanya daun yang dijadikan sampel sebagai koleksi.  Untuk proses identifikasi yang lebih akurat terkadang sampel dibawa ke Leiden (Belanda) karena disana memiliki sarana yang sangat memadai.

Eksplorasi Gabungan

Secara struktural, Herbarium Bogor sekarang sebenarnya telah berubah nama menjadi Bidang Botani yang berada di bawah koordinasi Puslit Biologi LIPI.  Di bidang tersebut  terdapat 2 kelompok gedung yang memiliki masing-masing 3 kelompok penelitian yaitu, yang ada di Herbarium dan di Gedung Threub yang ada di Kebun Raya Bogor.  Kelompok penelitian taksonomi, ekologi dan etnobotani ada di Herbarium.  Sedangkan di gedung threub terdapat kelompok penelitian fisiologi, morfogenetika dan fitokimia.

Dalam melakukan tugas koleksi tumbuhan di lapangan biasanya beberapa kelompok penelitian akan bergabung,  seperti kelompok ekologi, taksonomi dan juga kadang digabung dengan bidang zoologi.  Semuanya bisa saling berkoordinasi namun tetap fokus pada bidangnya masing-masing.   

Pelayanan Informasi Tumbuhan

Sebagai salah satu tempat sumber informasi mengenai berbagai jenis spesies tumbuhan, Herbarim Bogor telah lama digunakan oleh masyarakat untuk berbagai macam keperluan.  “Memang kebanyakan mereka yang memanfaatkan herbarium adalah para peneliti, mahasiswa dari berbagai jenjang  dan pelajar yang sedang mendalami ilmu botani” ujar Mulyati.   Selain itu beberapa perusahaan swasta terkait, juga memanfaatkan herbarium untuk perkembangan aktivitas bisnisnya.   Sebagai contohnya adalah PT Esai Indonesia yang bergerak dalam bidang farmasi dan mendalami penelitian tumbuhan berkhasiat obat.  Selain perusahaan tersebut terdapat institusi yang bergerak dalam proses penelitian dan pengembangan tumbuhan di Asia Tenggara (PROSEA) yang juga menjadikan herbarium sebagai salah satu referensinya.  Bahkan  lembaga tersebut berkantor di gedung Herbarium Bogor.

Penelitian Tumbuhan Obat Meningkat

Seiring dengan menguatnya kembali pemanfaatan bahan alam dari tumbuhan, maka institusi ini juga meningkatkan penelitian mengenai tumbuhan berkhasiat obat.  Beberapa kelompok penelitian juga terlibat secara langsung dalam pengembangan tumbuhan berkhasiat obat. 

Sebagai langkah awal kelompok penelitian etnobotani akan melakukan survey  mengenai manfaat suatu jenis tumbuhan  yang secara empiris telah digunakan di suatu daerah.  Kemudian berdasarkan hasil penelitian tersebut akan diteruskan oleh kelompok penelitian taksanomi dan fitokimia untuk membuktikan secara ilmiah apakah benar jenis tumbuhan yang dimaksud berkhasiat sebagai obat.

Setelah teridentifikasi secara ilmiah, maka tumbuhan tersebut dijadikan sebagai bahan penelitian lebih lanjut oleh berbagai institusi yang berkaitan seperti Departemen Pertanian dan juga Departemen Kesehatan. (heri) 

 

LAYANAN KAMI


  1. Klinik Herbal
  2. Balai pengobatan Herbal
  3. Konsultasi Pengobatan
  4. Obat-obat Herbal
  5. Kebun Tanaman Obat
  6. Pelatihan Tanaman Obat
  7. Agrowisata Tanaman Obat
  8. ...
Layanan Lain

AGENDA

December 2017
MSSRKJS
12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31